Jumat, 09 Maret 2012

Pidato Bung Karno Tentang Marhaenisme

Saudara-saudara seluruh keluarga Front Marhaenis,

Saya ikut gembira, bahwa saudara-saudara seluruh keluarga Front Marhaenis pada hari ini merayakan ulang tahun lahirnya PNI dan Marhaenisme; dan saya mengharapkan hendaknya Front Marhaenis terus maju dalam menggalang seluruh kekuatan revolusioner Rakyat Marhaen kita.

Sewaktu saya 36 tahun yang lalu mencetuskan ajaran Marhaenisme, dasar-pokok keyakinan saya adalah bahwa Indonesia Merdeka hanya dapat dicappai apabila kita dapat mempersatukan seluruh kekuatan Rakyat Marhaen itu dalam suatu organisasi yang maha-hebat. Tanpa persatuan bulat antara seluruh kekuatan rakyat kita, Indonesia merdeka tidak mungkin tercapai! Dan tanpa suatu ajaran revolusioner, maka persatuan itu tak mungkin tercapai! Iitulah keyakinan saya pada waktu itu!

Keyakinan saya ini bukan begitu saja tumbuh; atau dalam bahasa Belandanya bukan hasil dari een slaploze nacht; melainkan hasil dari pemikiran yang luas dan mendalam sekali. Pula hasil pengalaman praktek perjuangan saya, baik selaku pemuda dan mahasiswa, maupun kemudian sebagai seorang pemimpin baru dan muda dalam barisan pergerakan rakyat kita, sekitar tahun 1915-1926 dulu.

Dan berdasarkan hasil pemikiran serta praktek perjuangan saya itu, saya mencetuskan ajaran Marhaenisme pada tahun 1927, 36 tahun yang lau; suatu ajaran yang mengandung ilmu perjuangan revolusioner untuk menggalang persatuan Kaum Marhaen, dan yang saya rumuskan pada waktu itu sebagai sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi.

Dalam hal ini memang sayang sangat dipengaruhi oleh ajaran-ajaran Marxisme. Malahan ajarannya Karl Mar tentang historis-materialisme saya gemari dan saya setujui sepenuhnya, dan saya gunakan, ya… saya toepassen, saya terapkan pada situasi masyarakat Indonesia. Dan sebagai hasil dari penggunaan toepassing atau penerapan historis materialisme Karl Marx di masyarakat Indonesia dengan ia punya kondisi sendiri, dengan ia punya situasi sendiri, dengan ia punya sejarah sendiri, dengan ia punya kebudayaan sendiri, dan sebagainya lagi, maka saya datang kepada ajaran marhaenisme.

Maka dari itu saya selalu menganjur-anjurkan kepada seluruh Front Marhaenis, bahwa untuk dapat memahami Marhaenisme ajaran saya itu, kita minimal, paling sedikit, harus menguasai dua pengetahuan:

Pertama: Pengetahuan tentang situasi dan kondisi Indonesia, dan

Kedua : Pengetahuan tentang Marxisme.

Siapa yang secara minimal tidak menguasai dua hal itu tak akan dapat memahami Marhaenisme ajaran saya.

Tentang hal ini, maka saya tidak akan jemu-jemunya untuk mengemukakan kepada saudara-saudara dari seluruh Front Marhaenis. Sebabnya ialah tidak lain supaya kita semua jangan sampai salah terima, salah tafsir, dan salah paham antara kita sama kita.

Selain daripada itu, saya ingin supaya kita semua terus menyadari sedalam-dalamnya, bahwa juga dalam alam kemerdekaan sekarang ini ajaran Marhaenisme, seperti yang dasar-dasar pokoknya saya terangkan di atas, masih berlaku penuh. Malahan di dalam alam manipol/Usdek sekarang ini—dan Manipol/Usdek adalah pemancaran dari pancasila—maka dasar-dasar pokok di atas perlu terus kita pegang teguh. Dan tidak hanya kita pegang teguh, tetapi harus kita perluas, perdalam, dan perkembangkan, di medan praktek-perjuangan! Hanya dengan mempraktekkan di medan perjuangannya kaum Marhaen, maka ajaran marhaenisme akan terus bersinar!

Karena itu, saya untuk kesekian kalinya minta perhatian saudara-saudara sepenuhnya, supaya ajaran-ajaran marhaenisme, Pancasila, Manipol/Usdek, beserta segala pedoman-pedoman pelaksanaannya itu terus saudara-saudara perdalam, perluas, dan perkembangkan di medan praktek-perjuangan!


Ini berarti bahwa kita semua harus selalu berjuang di tengah-tengah rakyat Marhaen, membulatkan seluruh kekuatan marhaen, dan bersama-sama dengan kaum Marhaen itu terus berjuang melawan Kapiltalisme, imperialisme, kolonialisme, dan Neo-kolonialisme, di mana pun ia masih bercokol dan berada.

Tetapi, kita tidak boleh berjuang secara “ngawur.” Kita harus berjuang dengan teratur. Teratur dalam ideologinya, dan teratur dalam organisasinya! Barisan kaum Marhaen mesti kokoh dan kuat. Bukan hanya ideologinya yang kokoh-kuat, tetapi juga keorganisasiannya. Dan ajaran Marhaenisme, sebagai ilmu perjuangan dan dasar perjuangan, memberikan kepada kita semua landasan-landasan yang kokoh-kuat untuk menjamin kemenangan kaum Marhaen dalam memperjuangkan cita-cita revolusinya dewasa ini, terutama dalam membangunkan sosialisme Indonesia.

Untuk itu kita harus benar-benar berpegang teguh kepada apinya Marhaenisme, dan jangan kita hanya sekedar mencukil-cukil saja abunya ajaran Marhaenisme.

Karena itu, dalam kita semua memperingati ulang tahun ke-36 lahirnya PNI dan Marhaenisme ini, saya sekali berpesan: Warisi apinya dan jangan abunya.

Dan teruskan apinya itu menyala-nyala untuk persatuan seluruh kekuatan rakyat marhaen yang revolusioner, menuju ke arah kemenangan segala cita-cita revolusi kita, membangunkan sosialisme Indonesia berdasarkan Pancasila

Jakarta, 4 Juli 1963

PRESIDEN/PANGLIMA TERTINGGI/PEMIMPIN BESAR REVOLUSI,

(SOEKARNO)

BAPAK MARHAENISME

*) Amanat kepada Front Marhaenis pada tanggal 4 Juli 1963

Sumber : http://www.berdikarionline.com/bung-karnoisme/20110603/amalkanlah-marhaenisme.html

ads

Ditulis Oleh : Pustakawan Hari: 02.32 Kategori:

0 komentar:

Posting Komentar

 

Blogroll

Blog Archive

About